Senin, 25 Mei 2009

Rekonstruksi Konsep KeImanan Terhdap Para Rasul

I. Pendahuluan

Ketahuilah! Bahwa Dienul Islam ini merupakan Birokrasi Ilahiyyah yang senantiasa berlanjut tidak pernah terputus oleh waktu dan meninggalnya seorang utusan. Setiap zaman senantiasa ada seorang rasul yang akan memberikan pengarahan terhadap dien ini. Agama ini dilengkapi dengan pondasi supaya memiliki kekuatan dan tahan akan goncangan yang datang dari luar. Seseorang dalam beragama yang memiliki pondasi tersebut dijamin hidupnya akan selamat. Pondasi agama tersebut ialah Iman, Islam, dan Ihsan. Islam merupakan faktor yang berhubungan dengan masalah lahir atau yang mengatur masalah syari’at dan adab seorang hamba akan sang Khalik. Iman merupakan faktor yang mengatur masalah hakikat atau alam gaib yang menyangkut kepercayaan seseorang terhadap rukun iman. Ihsan adalah maqom evaluasi antara islam dan iman, apakah islamnya sudah ihsan atau belum? Apakah imannya sudah ihsan atau belum? Di sinilah aspek keduanya bisa diketahui kadar kualitasnya.

Seiring dengan perkembangan waktu dan terbatasnya usia seseorang serta pemikiran dan tingkah laku yang beraneka ragam, maka dalam menghadapi semua ini diperlukan seseorang yang akan senantiasa membimbing dan mengajak umat kepada jalan yang lurus. Sekarang kita hidup bukan pada zaman nabi, melainkan hidup pada zaman yang lain. Lalu yang menjadi pertanyaan besar ialah siapa yang berhak untuk membimbing dan mengajak umat untuk kembali kepada jalan yang lurus?

Dalam makalah ini, penulis akan mencoba untuk menjelaskan mengenai konsep keimanan terhadap rasul yang layak menempati tingkat pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira serta menjawab pertanyaan yang timbul dari ketidak pahaman mengenai siapa itu rasul. Semoga pembahasan ini bermanfa’at dalam mengkaji kembali konsep iman kepada rasul serta penulis berharap pembaca bisa meluruskan apabila pembahasan ini menyalahi yang telah ada, demi terjaganya keimanan kita.

II. Pembahasan

Iman kepada para rasul merupakan rukun iman yang keempat. Iman kepada para rasul ialah mempercayai bahwa Allah telah memilih di antara manusia menjadi utusan – utusan-Nya dengan membawa tugas dan risalah kepada manusia sebagai hamba – hamba Allah dengan wahyu yang diterimanya dari Allah Swt. untuk memimpin manusia ke jalan yang lurus dan untuk mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat.[1]

Ada sebuah pertanyaan yang muncul mengapa keimanan terhadap para rasul itu lebih sulit daripada keimanan terhadap Allah? Seorang al-Ulama menjawabnya dengan sederhana bahwa keimanan terhadap para rasul itu sulit karena para rasul itu berasal dari golongan manusia (bukan dari golongan jin atau malaikat) yang cenderung memiliki sifat kemanusiaan. Para rasul itu makan, minum, mati, menikah, pergi kepasar dan sebagainya layaknya seorang manusia, lalu mengapa sama – sama manusia harus percaya kepadanya. Selanjutnya keimanan terhadap Allah itu mudah karena Allah berbeda dengan manusia yang tidak memiliki sifat kemanusiaan. Jadi, yang diharapkan oleh orang yang tidak percaya kepada rasul itu ialah mereka menginginkan rasul yang berbeda dengannya maksudnya bukan sama – sama manusia. Contohnya seperti umat Nabi Musa As. mereka percaya kepada Nabi Musa, tetapi mereka tidak percaya akan kedatangan Nabi Muhammad. Mereka beranggapan bahwa informasi yang mereka terima tidak sesuai dengan apa yang tercantum dalam kitabnya serta kenyataan rasulnya masih dari golongan manusia bukan dari golongan jin atau malaikat.

Informasi yang mereka terima ialah bahwa nama rasul yang akan memimpin mereka ialah bernama Ahmad bukan Muhammad. Hal ini seperti diisyaratkan oleh al-Qur’an surat as-Shaf ayat 6:

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Isa Ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, Yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata."

Mereka memahami bahwa kata Ahmad itu benar – benar nama orang padahal dalam ilmu bahasa Arab bahwa kata Ahmad itu merupakan kata yang memiliki makna lebih yaitu ‘lebih terpuji’, sedangkan orang yang terpuji ialah bernama Muhammad. Jadi kalau mereka (Bani Israil) memahami akan bahasa Arab pasti mereka akan beriman, karena informasi yang mereka terima sesuai dengan kenyataannya, tetapi faktanya tidak demikian.

Para rasul dari zaman dahulu sampai zaman sekarang memiliki empat sifat yang istimewa. Pertama; sifat benar, seorang rasul selalu bersifat benar dalam setiap perkataan dan perbuatannya. Mustahil dia berkata dusta yang akan berakibat sangat patal apabila dia berdusta, sebab beliau adalah figur yang senantiasa diikuti setiap tutur katanya. Kedua; kepercayaan atau amanah. Seorang rasul mustahil khianat, baik mengkhianati manusia lebih – lebih mengkhianati Tuhan. Dia wajib menunaikan amanat yang dibebankan kepadanya sekuat tenaga jiwa dan raga. Ketiga; menyampaikan atau tabligh. Seorang rasul mustahil menyembunyikan sesuatu tentang apa yang telah diwahyukan Tuhan kepadanya. Segala perintah dan larangan Tuhan harus disampaikan kepada ummatnya dengan cara yang haq, baik itu pahit yang akan membahayakan dirinya maupun manis. Keempat; sifat kecerdasan. Artinya seorang rasul mustahil seseorang yang bodoh yang tidak bisa berbuat apa – apa untuk umatnya. Akan tetapi, dia wajib memiliki kekuatan berfikir dan kemampuan rasio yang tinggi untuk melawan dan mematahkan hujjah – hujjah yang datang dari para pengganggu dan kaum kafir untuk menentang ajaran para rasul. Sifat cerdas yang dimiliki oleh seorang rasul akan memberikan kemudahan dalam menyampaikan risalahnya yang akan membuat ummatnya menjadi mengerti karena argumentasi – argumentasi yang disampaikan dapat diterima oleh akal mereka.[2]

Kebanyakan orang sekarang terjebak akan bahasa dan salah paham mengenai konsep keimanan kepada para rasul bahwa keimanan terhadap rasul itu meyakini rasul – rasul sebelum nabi Muhammad dan nabi Muhammad itu sendiri -maksudnya mereka mnyakini para rasul dari kalangan para nabi saja- dan mereka tidak berani untuk mengubah konsep yang telah ada. Padahal konsep sebenarnya ialah menyakini setiap rasul baik itu dari kalangan para nabi maupun dari kalangan para pewarisnya. Sebab kedatangan Nabi Muhammad Saw. bukan sebagai penutup para nabi dan rasul, melainkan hanya sebagai penutup para nabi saja. Penulis belum menemukan teks al-Qur’an maupun al-Hadis yang menyatakan bahwa nabi Muhammad itu sebagai penutup para nabi dan para rasul. Kalaupun ada al-Qur’an hanya menyatakan bahwa Nabi Muhammad sebagai penutup para nabi yang tercantum dalam surat al-Ahzab ayat 40:
Artinya:”Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah yang mengetahui segala sesuatu.”

Sangat jelas sekali bahwa ayat ini mengatakan Nabi Muhammad itu sebagai penutup para nabi bukan penutup para rasul sehingga ada ayat – ayat al-Qur’an dan hadis yang mengisyaratkan tentang adanya rasul bagi setiap zaman.
Artinya: “ Demi Allah, Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi syaitan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), Maka syaitan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka azab yang sangat pedih.”(QS. An-Nahl: 63):

Artinya:”Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.”(QS. al-Fathir: 24)

Artinya: ”orang-orang yang kafir berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu tanda (kebesaran) dari Tuhannya?" Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan; dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.”(QS. al-Ra’d: 7)

Ayat – ayat ini mensinyalir adanya rasul setelah Nabi Muhammad. Karena ayat – ayat al-Qur’an itu bersifat dinamis tidak statis. Begitu juga ayat – ayat ini menjelaskan akan tugas seorang rasul yang diutus oleh Allah. Selain ayat – ayat al-Qur’an tersebut ada juga hadis nabi yang mengisyaratkan akan hal itu:

‏ ‏حَدَّثَنَا ‏ ‏سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الْمَهْرِيُّ ‏ ‏أَخْبَرَنَا ‏ ‏ابْنُ وَهْبٍ ‏ ‏أَخْبَرَنِي ‏ ‏سَعِيدُ بْنُ أَبِي أَيُّوبَ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏شَرَاحِيلَ بْنِ يَزِيدَ الْمُعَافِرِيِّ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏أَبِي عَلْقَمَةَ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏أَبِي هُرَيْرَةَ ‏ ‏فِيمَا أَعْلَمُ ‏عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏قَالَ ‏ ‏إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا

Artinya: “Mewartakan kepada kami Sulaiman bin Daud al-Mahri, mewartakan kepada kami Ibn Wahab, mengabarkan kepadaku Sa’id bin Abi Ayyub dari Syarahil bin Yazid al-Mu’afiri, dari Abi ‘Alqamah dari Abu Hurairah dari rasulullah Saw. bersabda: sesungguhnya Allah akan mengirim kepada umat ini pada awal setiap seratus tahun seseorang yang akan memperbaharui pemahaman agama untuk mereka.”[3] (HR. Abu Daud).

Hadis ini menyatakan bahwa Allah akan mengutus kepada ummat manusia atau mahluknya seseorang yang akan memperbaharui dalam dien al-Islam. Meskipun dien Islam ini telah disempurnakan oleh kedatangannya Nabi Muhammad Saw., tetap saja kesempurnaan ini akan berkurang dan berubah walupun dirawat dan dijaga. Kita analogikan bahwa dien Islam itu sebagai sebuah bangunan yang telah sempurna serta bagus sehingga apabila bangunan ini telah sempurna pasti pada suatu saat akan rusak atau berkurang kesempurnaannya. Untuk mengembalikan sebuah bangunan tersebut menjadi seperti pada asalnya tentunya memerlukan orang yang ahli dalam bidangnya. Begitu juga dengan dien Islam, kita ditinggalkan oleh Nabi Muhammad 16 abad yang lalu, apakah mungkin dien Islam tetap sempurna, kan tidak mungkin. Untuk itu kita memerlukan seseorang yang akan mengembalikan dan memperbaharui kesempurnaan dien Islam. Nabi Muhammad mengisyaratkannya dalam sebuah hadis yang berbunyi: “al-Ulamāu warasatul anbiyā” (bahwa al-Ulama itu pewaris para nabi). Jadi, para nabi mewariskan semua yang dia miliki baik ilmu, tugas, dan segalanya kepada al-Ulama untuk menyeru dan mngajak manusia untuk kembali kepada jalan yang lurus.

Perlu digaris bawahi bahwa al-Ulama di sini bukanlah sembarangan ulama, melainkan ulama tertentu. Karena dalam lafadz al-Ulama memiliki alif lam makrifat yaitu untuk menyatakan kekhususan. Tidak sembarangan dan semua ulama bisa menjadi pewaris para nabi yang akan melanjutkan dakwah beliau. Seorang al-Ulama memiliki kriteria layaknya para nabi karena beliau memiliki posisi sebagai pewarisnya. Mereka tidak mungkin berdusta dan melakukan perbuatan yang akan menjatuhkannya ke dalam lembah dosa dan kenistaan.

Al-Ulama yang menjadi pewarisnya tidak menggunakan kata rasulullah, melainkan menggunakan kata Khalifah Rasul. Karena dalam ilmu tata bahasa Arab tidak boleh meng-idopatkan kepada kata yang sama yakni rasul Rasulullah, tetapi harus diganti dengan istilah Khalifah Rasul. Istilah rasul Rasulillah ini pernah digunakan oleh nabi dalam sebuah hadisnya ketika mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman untuk menjadi gubernur disana. Nabi mengucapkan:

‏ ‏حَدَّثَنَا ‏ ‏حَفْصُ بْنُ عُمَرَ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏شُعْبَةَ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏أَبِي عَوْنٍ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏الْحَارِثِ بْنِ عَمْرِو ‏ ‏ابْنِ أَخِي ‏ ‏الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏أُنَاسٍ ‏ ‏مِنْ أَهْلِ ‏ ‏حِمْصَ ‏ ‏مِنْ أَصْحَابِ ‏ ‏مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ ‏أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏لَمَّا ‏ ‏أَرَادَ أَنْ يَبْعَثَ ‏ ‏مُعَاذًا ‏ ‏إِلَى ‏ ‏الْيَمَنِ ‏ ‏قَالَ كَيْفَ تَقْضِي إِذَا عَرَضَ لَكَ قَضَاءٌ قَالَ أَقْضِي بِكِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَبِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏قَالَ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏وَلَا فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ أَجْتَهِدُ رَأْيِي وَلَا ‏ ‏آلُو ‏ ‏فَضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏صَدْرَهُ وَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ لِمَا ‏ ‏يُرْضِي رَسُولَ اللَّهِ ‏


Artinya: “…..Segala puji bagi Allah yang telah menyebabkan utusan Rasulnya menyenangkan hati Rasulullah.”

Ungkapan ini mengindikasikan bahwa posisi al-Ulama pada zaman sekarang adalah sebagai pengganti rasulullah yang akan melanjutkan dakwah dan menyeru umat kembali untuk beribadah mengesakan Allah. Kalaulah tidak ada penggantinya lalu siapa yang akan meluruskan ummat kepada jalan yang seharusnya, yakni jalan kebenaran dan keselamatan. Kalau masih tetap menyakini bahwa tidak ada rasul setelah Nabi Muhammad lalu siapa yang memimpin umat, secara kasarnya apakah bisa orang yang telah meninggal memimpin umatnya? Nabi Muahammad dan umatnya sudah berlainan alam kita yang masih hidup berada di alam lahir, sedangkan nabi berada di alam batin yakni alam gaib (alam kubur). Selain itu nabi juga pernah menyuruh ummatnya untuk berpegang teguh terhadap para khalifah – khalifahnya. Khalifah ini tidak dibatasi oleh yang empat saja, melainkan masih ada khalifah yang lain. Kita tahu bahwa sistem pengangkatan mereka dilakukan dengan cara demokrasi. Namun kahlifah dalam birokrasi Ilahiyyah ditunjuk oleh Allah dan rasulnya. Khalifah ini bukan dalam sistem daulah ataupun Khilafah Islamiyah melainkan dalam kehidupan dunia dan akhirat dalam mencapai kebahagiaan dan keselamatan. Orientasi kepemimpinannya tidak hanya membijaki masalah dunia, tetapi semua aspek yang bisa dilakukan untuk beribadah. Kita hidup dan diciptakan tidak lain dan bukan hanya untuk mengabdi dan tunduk patuh akan seorang majikan. Majikan kita adalah Allah. Kita tidak kenal siapa itu Allah, kita belum pernah berjumpa dengan Dia. Untuk itu kita memerlukan seseorang yang akan memperkenalkan kita terhadap Allah. Siapa lagi kalau bukan petugas-Nya yang mendapatkan mandat dan legalitas dari para pendahulunya. Al-Qur’an menegaskan bahwa suatu hari nanti setiap umat akan dipanggil dengan imamnya masing – masing (lihat. Al-Isra: 71). Dalam sebuah kitab tafsir dikatakan bahwa imam itu ialah para nabi, para rasul, dan pemimpin. Perlu diingat imam yang kita akui adalah imam yang hidup sezaman dengan kita. Kalau kita hidup di zaman Nabi Muhammad maka imam kita adalah beliau, tetapi kalau kita tidak hidup sezaman dengan beliau, lalu siapakah imam yang akan kita akui yang bisa mempertanggungjawabkan amal perbuatan kita? Sudah kita memikirkan akan hal itu? Imam yang tidak sezaman yang kita akui tidak akan dibenarkan ketika kita menjawab dengan nama imam yang lain. Contoh konkritnya seperti birokrasi insaniyah yaitu sekarang kita hidup dizaman SBY, tentunya kita harus mengakui akan kepresidenannya. Akan tetapi, ada seseorang yang ketinggalan informasi mengenai hal itu. Ketika dia merantau lalu ketika ada razia dan ditanyakan tentang KTPnya, dia hanya menunjukan KTP pada masa pemerintahan Soekarno misalnya, lalu apa yang akan terjadi. Sudah barang tentu petugas yang memeriksanyapun tidak akan menerimanya, karena KTPnya tidak sesuai. Begitu pula imam yang kita akui harus memiliki izin untuk memimpin dan pastinya kita hidup pada masanya.

Sebenarnya manusia yang hidup di dunia ini memerlukan seorang rasul. Ada beberapa alasan mengapa seorang rasul diperlukan oleh manusia, diantaranya:[4]

Pertama; bila manusia dalam berbagai aspek kehidupannya dibiarkan bebas tanpa bimbingan dan pengaturan, maka pasti ia akan tergelincir ke dalam kesesatan karena kuatnya pengaruh insting dengan berbagai ragamnya yang menuntut manusia untuk memenuhi segala kebutuhan dengan berbagai dorongannya. Oleh karena itu, manusia memerlukan seorang rasul untuk menjelaskan dan membimbing mereka. Karena alasan itulah Allah mengutus para rasul-Nya kepada umat manusia dengan segala kebijakan-Nya. Kedua; manusia, sesuai dengan fitrah yang Allah tetapkan pada mereka, diciptakan-Nya untuk diuji dan dicoba kehendak dan kebebasannya, guna diketahui manakah diantara mereka yang lebih baik amal perbuatannya. Sekiranya Allah tidak mengutus para rasul-Nya kepada umat manusia --guna untuk menjelaskan dan menyampaikan berita gembira dan berita menakutkan-- maka mereka berhak memprotes Allah kelak di akhirat ketika hendak dihisab dengan alasan bahwa Allah tidak mengutus rasul-Nya kepada mereka, yang akan bertindak sebagai pembimbing mereka untuk mengamalkan hukum dan perintah serta menjauhi segala larangan-Nya. Oleh karena itu, manusia sangat membutuhkan rasul utusan Allah sebagai pembimbing dan penuntun yang akan mengarahkan mereka kepada pengamalan hukum dan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Oleh karena itu, Allah mengutus rasul-Nya dengan bijaksana dan rasa kasih sayang-Nya kepada umat manusia. Ketiga; manusia, bagaimanapun ia berusaha dan sebaik apapun kondisinya, mereka tetap tidak akan mampu untuk mencapai dan menjadi insan kamil, menjalankan semua jenis kebaikan, keutamaan dan kemuliaan, sebab instingnya, egoismenya, syahwatnya dan hawa nafsunya senantiasa mendorongnya untuk berpaling dari kebenaran dan kebaikan. Bahkan, dalam banyak kesempatan telah mempengaruhi manusia dengan berbagai kebatilan dan keburukan. Oleh karena itu, mereka membutuhkan rasul utusan Allah yang mengajarkan mereka berbagai sifat atau ahlak yang baik, di samping menyampaikan berita gembira dan menakutkan. Kalaulah kita menganggap bahwa manusia –setelah melalui proses ujian dan cobaan sepanjang perjalanan sejarahnya- telah dapat mewujudkan berbagai sifat kemanusiaan yang mulia, kenyataan membuktikan bahwa hal itu sangat sedikit. Selain itu, pada saat ia diterapkan dan diamalkan dalam praktik kehidupan, sifat – sifat mulia tadi selalu berhadapan dengan syahwat dan hawa nafsu. Dalam kondisi demikian, sifat – sifat mulia tersebut sewaktu – waktu bisa terkalahkan, yaitu jika manusia tidak merasa lagi takut terhadap hukuman yang akan diterimanya di hari kemudian, atau sekiranya manusia tidak lagi mengharapkan ganjaran terhadap kebaikannya, baik pada saat sekarang maupun pada masa mendatang.

Terbukti bahwa teori dan cara pemberian semangat dan mewanti – wanti merupakan cara yang lebih baik dalam usaha mendidik. Teori inilah yang diterapkan dan digunakan oleh para rasul sesuai petunjuk syari’at yang diturunkan oleh Allah Swt.. Cara ini sanggup menanamkan kesadaran pada diri manusia, baik ketika ia sedang sendirian maupun ketika ia berada dalam suatu kelompok masyarakat, baik dalam keadaan sembunyi – sembunyi maupun terang – terangan. Di samping itu, dengan adanya rasul akan membawa umat kepada kebahagiaan yang kekal yang tidak dapat diraih kecuali dengan keridhaan Allah Swt.

Keempat; dalam usaha memperbaiki manusia dan meluruskan perilakunya dalam kehidupan, banyak hakikat ilmiah yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Hakikat ilmiah ini disampaikan oleh para rasul kepada manusia dengan dukungan mukjizat dari Allah. Sangatlah musathil manusia mengetahuinya dengan begitu saja atau dengan sendirinya –bagaimanapun kuatnya akal pikirannya- melalaui sarana yang lazimnya digunakan oleh manusia. Beberapa hakikat itu ialah hari akhir, neraka, dan surga. Kalau saja bukan karena para rasul utusan Allah menjelaskan dan menunjukkannya kepada umat manusia, maka manusia akan tetap bergelut dengan alam materi dengan segala kelemahannya dan akan tetap menggeluti dunia ramalan dan alam khurafat dalam mengantisipasi perkara gaib. Oleh karena itu, manusia sangat membutuhkan rasul untuk memberikan penjelasan, kabar gembira dan kabar yang menakutkan.

Kelima; manusia sangat membutuhkan pembaru ideal yang dapat dijadikan panutan dan contoh bagi mereka. Sosok pembaru ideal harus memenuhi sejumlah syarat, di antaranya dapat menjadi panutan bagi kebaikan, terjaga dari segala kemungkinan melakukan kesalahan. Selain itu, ideologi maupun amaliah ahlaknya haruslah baik sehingga dapat dijadikan patokan dalam membimbing dan menuntun manusia. Jika tidak demikian, sangat mungkin ia mengubah dan membolak-balikkan pengertian baik menjadi buruk dan buruk menjadi baik.

Menurut sebagian penelitian bahwa sifat – sifat ini terdapat pada diri para rasul yang maksum yang mendapat dukungan dari Allah berupa mukjizat yang nyata. Oleh karena itu, manusia sangat membutuhkan tuntunan dan bimbingan dari seorang rasul yang mempunyai kesempurnaan sifat – sifat manusiawi dan menjadi panutan yang baik bagi semua insan. Oleh karena itu, Allah mengutus rasul yang terpelihara dari kesalahan dalam menyampaikan risalah dan syari’atnya serta terjaga pula dari perbuatan maksiat terhadap umat dan Tuhannya.

Banyak ayat al-Qur’an yang menjelaskan dan menegaskan beberapa kegunaan dan kemaslahatan pengutusan rasul bagi umat manusia dan kebutuhan manusia akan diutusnya seorang rasul bagi kehidupan mereka. Di antaranya adalah untuk menjelaskan hakikat dien dan hukum – hukum syari’at agar manusia berlaku adil. Al-Qur’an mengisyaratkan, jika manusia hidup tanpa kehadiran rasul di tengah mereka, maka manusia akan memprotes Allah dan berdalih bahwa tidak ada orang yang membimbing dan menunjukkan kebenaran bagi mereka sehingga mereka terus hidup bergelimang perbuatan dosa. Ayat – ayat yang menjelaskan tujuan diutusnya rasul, diantaranya:
Artinya: “Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada sembahan melainkan Aku, Maka beribadahlah kalian semua akan aku". (QS. al-Anbiya: 25):
Artinya: “Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "beribadahlah kalian semua kepada (karena) Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. an-Nahl: 36)

Artinya: “Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)”. (QS. asy-Syura: 13)
Artinya: Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. al-Jumu’ah: 2)

Artinya: “Dan Adapun kaum Tsamud, Maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk, Maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.”(QS. Fushshilat: 17)

Ayat – ayat di atas menjelaskan tentang tujuan diutusnya para rasul baik itu dari kalangan para nabi maupun dari kalangan para pewarisnya. Allah menurunkan wahyu terhadap rasulnya dari kalangan nabi sebagai mukjizat, lalu apa yang diberikan oleh Allah terhadap rasul dari kalangan para pewarisnya?

Para pewarisnya tidak mempunyai wahyu melainkan hikmah yang diterimanya terhadap al-Qur’an. Hikmah di sini adalah merupakan suatu usaha untuk menyikapi al-Qur’an secara tepat agar pesan yang terkandungnya bisa dipahami secara tepat. Sebagai contoh seperti penggunaan kata “Maha” dalam setiap nama – nama Allah yang indah. Dalam berbagai ayat yang berkenaan dengan nama – nama Allah banyak dijumpai terjemah dengan menggunakan term ‘maha’ sebagai padanan kata nama – nama Allah.

Akhirnya para mufassirin dan umatnya mengikutinya sampai akhir zaman ini tidak berani merubah pendapat yang sudah ada. Itulah sebabnya umat terjebak pada konsep “Maha” ketika mengartikan sifat – sifat Allah Swt.. Sebagai contoh terjemahan atas basmallah dengan menyatakan di dalamnya Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Maksud penambahan “Maha” di sini memang untuk memuliakan atau meninggikan nilai posisi Allah. Namun hal ini menyebabkan penyimpangan dari kapasitas ilmu yang sudah eksak atau pasti. Dengan demikian, satu ayat dengan ayat yang lain tidak saling memberikan koreksi dan pembenaran.

Ketika ar-Rahmān dan ar-Rahīm diterjemahkan dengan kata “Maha”, sedangkan sifat Allah itu Esa (tunggal) yang jika diaktualisasikan dengan nilai eksak menjadi “1” (satu) lalu ditambahkan dengan “Maha”, maka hal itu hanya mengada – ngada dan tidak menambah apapun. Jika “Maha” digambarkan dengan sebuah kelipatan [kuadrat], maka nilai eksaknya “1”(satu) dikuadratkan dengan bilangan yang tidak terhingga maka tidak akan merubah nilai 12, 13, 17, 100, 1000, 10000, dst., = 1. Hal tersebut menggambarkan bahwa makna realitas Allah tidak bisa didongkrak dengan pengungkapan kata “Maha” dalam nama – nama-Nya yang indah.

Ungkapan “Maha” tidak layak diberikan kepada Allah. Tidak lain maqom Pengasih itu hanyalah haq milik Allah yang merupakan sesuatu yang logis bagi Allah Yang Pengasih dan Penyayang. Seumpama diucapkan dengan “Maha”, maka hal itu merupakan ungkapan emosional semata yang tidak menggambarkan interaksi atau hak dan tanggungjawab antara satu pihak (mahluk) dengan Khaliqnya. Maka terjadilah suatu persaingan di mana Allah Yang Maha Pengasih sedang manusia pengasih, Allah Maha Pintar , sedang manusia yang pintar, Allah Maha Kaya sedang manusia yang kaya. Bilamana merujuk pada asma Allah yang memiliki kesifatan sebagai Khaliq (yang menjadikan) kita, maka terdapat konsep hak dan kewajiban. Jika Khaliq memiliki maqom Kaya, maka manusia sebagai mahluk-Nya adalah yang “dikayakan”. Yang Hidup Allah, sedang manusia adalah yang “dihidupkan”. Yang Pengampun itu Allah, maka manusia adalah yang “diberi sifat pengampun”

Berkaitan dengan sifat-Nya Yang Pengampun, Allah berfirman innallaha ghafūrur rahīm. Di mana sifat ampunan-Nya selalu diiringi dengan sifat Penyayang-Nya. Sifat pengampun Allah tanpa reserve, tidak seperti manusia yang memiliki embel-embel di baliknya. Permintaan ampun mahluk-Nya disikapi dengan respon positif, berbeda dengan manusia jika dimintai ma’af seringkali dengan persyaratan atau komentar tertentu. Maka tidaklah dapat dibandingkan sifat pengampun Allah dengan sifat pengampun manusia. Karena sifat pengampun manusia hanyalah kualitas pemberian dari Allah Swt. semata. Begitu pula dengan sifat Kaya yang dimiliki oleh Allah, maka sifat tersebut adalah kekal. Artinya tidak akan terjadi Allah sebagai Khaliq jatuh miskin jika diminta sebesar apapun oleh seluruh mahluk-Nya. Berbeda dengan manusia yang kekayaannya mempunyai batas sehingga jika diminta akan takut kehabisan hartanya. Karena manusia tidaklah kaya, tetapi dikayakan oleh-Nya.

Kita mengetahui bahwa seorang siswa kedudukannya lebih rendah dibandingkan dengan mahasiswa. Antara siswa dan mahasiswa keduanya bisa dibandingkan dan yang membedakannya hanyalah beda kelas saja. Maka apakah kedudukan manusia bisa diposisikan seperti demikian sehingga bisa dibandingkan dengan Allah? Apakah kita bisa dibandingkan dengan Allah sehingga mampu dibedakan dengan kelas layaknya siswa dengan mahasiswa atau yang kaya dengan Yang Maha Kaya?

Penggunaan kata “Maha” tidak tepat pada asma Allah sehingga memutuskan hak dan kewajiban antara Allah dan hamba-Nya (interaksi mengikat). Jika kita perhatikan antara siswa dengan mahasiswa keduanya tidak ada hubungan yang mengikat. Keduanya hanya memiliki ikatan dengan dosen atau gurunya. Begitu pula jika kita sebutkan diri kita kaya dan Allah Yang Maha Kaya, akan menyebabkan interaksi (hubungan) yang mengikat menjadi hilang dan hal ini merupakan kekeliruan yang teramat besar.

Jika kita tetap mempertahankan kekeliruan penerjemahan ini berarti kita memmpertahankan kerusakan aqidah yang berimbas kepada kerusakan adab atau ahlak seorang mahluk kepada Khaliqnya, Allah’ Azza wa Jalla[5]

Ini hanyalah sebagian dari hikmah al-Qur’an yang disikapi oleh para pewarisnya, mungkin masih banyak lagi al-Qur’an yang salah dalam penerjemahannya. Tidak sedikit seseorang yang salah dalam membaca buku maka akan memberikan penafsiran yang salh juga. Begitu pula wahyu tidak hanya dibatasi oleh al-Qur’an dan Nabi Muhammad Saw..
Artinya: “Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang Menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan[1260] dengan izin Allah. yang demikian itu adalah karunia yang Amat besar.” (QS. Fathir: 32)

III. Kesimpulan

Dienul Islam merupakan dien yang telah sempurna dari berbagai segi. Namun tidak menutup kemungkinan kesempurnaan itu akan berkurang atau bahkan rusak. Kemurnian agama seseorang dalam mengimani rukun iman tentunya dipengaruhi oleh konsep dari setiap bagian yang harus diimani. Kesalahan konsep yang dipegang tentunya membawa pengaruh terhadap kesalahan dalam beramal. Lalu bagaimana amal yang salah dapat diterima oleh Allah Swt.

Keimanan terhadap para rasul merupakan rukun iman yang keempat. Konsep yang telah ada tidak berani dirubah oleh para cendikiawan muslim. Mereka tetap merasa senang dan bahagia tidak pernah merasa gelisah dan khawatir mengenai siapa rasul dari kalangan para pewaris nabi, ataukah mereka sudah merasa menjadi para pewaris nabi sehingga enggan untuk mencari dan memberitahu umat yang lain? Tentunya jawabannya kembalikan kepada diri kita masing – masing.

Untuk itu marilah kita rubah konsep keimanan kita yang telah ada menjadi konsep keimanan yang tepat dan mendapatkan legalitas di sisi Allah. Sikap kufur tehadap sebagian rasul berarti kufur akan semua para rasul dan kufur akan Allah. Karena secara tidak langsung mereka tidak menyakini akan kekuasaan Allah dalam menjadikan seorang rasul bagi setiap umat. Seandainya Allah tidak mengutus rasul dari kalangan para pewarisnya lalu siapa yang akan mengajak umat untuk beribadah kepada Allah? Apakah rasulullah Muhammad Saw. yang telah tawaffa yang akan mengajak umat kembali kejalan yang telah ditentukan? Perlulah bagi kita untuk mencari rasul dari kalangan para pewaris para nabi yang akan membijaki al-Quran dan mengembalikannya kepada makna yang diinginkan oleh pembuatnya serta mengajak umat untuk berusaha berbuat ikhlas dan memusnahkan TBC (Takhayul, Bid’ah, dan Churafat). Kami tegaskan kembali bahwa konsep keimanan terhadap rasul yang tepat ialah menyakini semua para rasul dari kalangan para nabi dan para pewarisnya yang membawa risalah Islam untuk beribadah dan mengesakan Allah Swt. yang berlaku bagi semua golongan dan mahluk baik itu manusia maupun jin.

DAFTAR PUSTAKA

Razak, Nasaruddin. Dienul Islam. cet. ke-13. Bandung: PT. Al-Ma’rif, 1996.

Matdawan, Noor. M. Dinamika Hukum Islam (Tinjauan Sejarah Perkembangannya). Yogyakarta: Yayasan Bina Karier dan LP5BIP, 1985.

Habanakah, Abdurrahman. Pokok – Pokok Akidah Islam. Jakarta: Gema Insani Press, 1992.

Basyir, Azhar, Ahmad. Beragama Secara Dewasa (Akidah Islam). Yogykarta: UII Press, 2002



[1]Nasruddin Razak, Dienul Islam Cet. ke-13, (Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1996), hlm. 140.

[2]Nasruddin Razak, Dienul Islam Cet. ke-13, hlm. 142-143.

[3]M. Noor Matdawan, Dinamika Hukum Islam (Tinjauan Sejarah Perkembangannya) (Yogyakarta: Yayasan Bina Karier LP5BIP, 1985), hlm. 12.

[4]Abdurrahman Habanakah, Pokok – Pokok Akidah Islam (Jakarta: Gema Insani Press, 1992), hlm. 234-237.

[5]Asy-Syekh Al-Akbar Muhyiddin Muhammad Daud Dahlan, Koreksi atas Terjemahan al-Qur’an Versi Depag RI (tanpa nama penerbit, tempat, dan tahun), hlm. 8-10.

Senin, 18 Mei 2009

Bingung

Kehidupan yang kita alami menyimpan berbagai rahasia. Tak ada seorangpun yang tahu tentang rahasia dari kehidupan yang telah lama berjaya.Terkadang kita bingung apa yang harus kita lakukan untuk kehidupan ini. kehidupan yang telah diciptakandengan berbagai media dan fasilitas yang sempurna membuat kita terpana dan bingung.
Terlalu banyak waktu luang membuat kita menjadi orang pemalas. Setiap pekerjaan yang kita miliki senantiasa ditunda - tunda menuggu waktu yang tepat untuk melakukan hal itu. begitu juga dengan memiliki banyak kesibukan kita menjadikannya sebuah alasan untuk bermalas - malasan. sebernarnya apa yang harus kita lakukan untuk kehidupan ini?
Wahai saudaraku sadarlah! Kau hidup di dunia ini tidak akan kekal, lalu apa yang telah Anda persiapkan untuk kehidupan yang ada setelah kematian? Harta yang banyak tidak akan membantu apabila digunakan untuk berpoya - poya. Ilmu yang banyak tidak akan bermanfa'at jika disimpan tidak pernah dipraktekkan. Istri yang cantik tidak akan membantu kita dalam menghadapi kematian jika tidak dididik dengan benar. Begitu pula anak yang banyak tidak akan menjadi penolong kalau tidak dididik menjadi anak yang shaleh. So. mamfa'atkanlah kehidupan yang sebentar ini untuk memperbanayak amal. tak ada rahasia bila kita berusaha untuk mengungkap rahasia tersebut. Tak ada kebingungan bila kita tahu akan tujuan kita dihidupkan.
Jangan berharap hari esok masih ada, selagi bisa berbuat sekarang maka lakukanlah. Jangan pernah berhenti untuk terus mencoba dan berusaha.